DuniaInternasionalNewsPolitikViral

Demo ‘No Kings’ Pecah di Seluruh AS, Jutaan Warga Turun ke Jalan

×

Demo ‘No Kings’ Pecah di Seluruh AS, Jutaan Warga Turun ke Jalan

Sebarkan artikel ini

WASHINGTON DC | SuaraNanggroe.id — Amerika Serikat dilanda gelombang demonstrasi terbesar dalam sejarah modern setelah jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings” yang berlangsung serentak di seluruh negeri pada akhir pekan, 28–29 Maret 2026.

Aksi ini menyebar di seluruh 50 negara bagian, dengan lebih dari 3.000 titik demonstrasi. Di ibu kota, ribuan hingga jutaan massa memadati kawasan National Mall hingga Monumen Lincoln, sementara kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, Chicago, dan Houston juga dipenuhi lautan manusia.

Gerakan “No Kings” menjadi simbol perlawanan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin otoriter. Para demonstran membawa berbagai spanduk bernada kritik keras terhadap pemerintah federal, menyerukan perlindungan demokrasi serta menolak kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.

Tidak hanya soal politik dalam negeri, aksi ini juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan internasional, khususnya terkait konflik yang melibatkan Iran, serta kebijakan imigrasi yang menuai kontroversi. Sejumlah insiden sebelumnya, termasuk penembakan warga sipil oleh aparat imigrasi, turut memperbesar kemarahan publik.

Selain itu, tekanan ekonomi seperti kenaikan biaya hidup dan ketimpangan sosial menjadi bahan bakar tambahan bagi meluasnya aksi protes.Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, aparat keamanan tetap disiagakan di berbagai kota untuk mengantisipasi potensi kericuhan.

Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban atau kerusuhan besar, namun situasi di sejumlah titik dilaporkan sempat memanas.Pengamat menilai demonstrasi ini mencerminkan tingkat polarisasi yang sangat tinggi di Amerika Serikat, sekaligus menjadi peringatan serius bagi pemerintah.

Gelombang protes yang terus membesar sejak awal tahun 2026 menunjukkan bahwa ketidakpuasan publik telah mencapai titik kritis.Jika tidak segera direspons dengan kebijakan yang menenangkan, aksi “No Kings” berpotensi menjadi awal dari krisis sosial-politik yang lebih luas di negara adidaya tersebut.[]