SuaraNanggroe.id | Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ia adalah tragedi kemanusiaan yang nyata, yang hingga hari ini masih menyisakan luka mendalam bagi ribuan korban. Ironisnya, di tengah penderitaan yang belum sepenuhnya tertangani—kelangkaan bahan makanan, keterbatasan obat-obatan, minimnya air bersih, bahkan masih adanya warga yang belum tersentuh bantuan—bencana ini belum juga ditetapkan sebagai Bencana Nasional.
Di lapangan, realitas berbicara jujur: rakyat bertahan hidup dengan seadanya, menunggu uluran tangan yang sering kali datang terlambat atau tidak datang sama sekali. Namun di ruang-ruang kekuasaan, narasi yang dibangun justru berbeda. Para penguasa negeri ini tampak lebih sibuk menjaga apa yang mereka sebut sebagai harga diri negara, bahkan sampai pada keputusan menolak bantuan luar negeri atas nama kemandirian.
Kepada dunia, mereka dengan gagah berkata, “Negara mampu mengatasi.”
Namun kepada rakyat yang menjadi korban bencana, kalimat yang terdengar justru sebaliknya: “Mohon bersabar, karena kami tidak punya tongkat Nabi Musa.”
Pernyataan ini bukan hanya ironis, tetapi juga menyakitkan. Karena memang benar, para penguasa bukanlah nabi. Maka tidak ada alasan untuk bersikap sombong, apalagi mempertaruhkan nyawa rakyat demi gengsi dan citra. Ketika bantuan ditolak sementara rakyat kelaparan, ketika akses kemanusiaan dipersempit sementara korban masih terisolasi, maka kelalaian itu bukan lagi kesalahan administratif—ia berubah menjadi kejahatan moral.
Membiarkan rakyat mati perlahan karena lapar, sakit, dan putus asa bukanlah bentuk kedaulatan. Itu adalah pengkhianatan terhadap amanat konstitusi dan nilai kemanusiaan itu sendiri.
Saya bukan pejabat, bukan penguasa, dan bukan siapa-siapa. Saya hanyalah warga sipil biasa. Namun sebagai manusia, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk bersuara. Karena diam di hadapan ketidakadilan adalah bentuk persetujuan yang paling sunyi namun paling kejam.
Melalui ajakan sederhana—melalui flyer SAVE SUMATERA dengan tagar #TetapkanBencanaNasional—saya mengundang saudara-saudara sebangsa yang masih memiliki empati untuk bersama-sama menyuarakan kebenaran. Ini bukan soal politik. Ini bukan soal gengsi negara. Ini soal nyawa manusia.
Semoga, dengan izin Tuhan, upaya kecil ini mampu melunakkan hati para penguasa negeri. Mengingatkan mereka bahwa kekuasaan bukan untuk dipertahankan dengan kesombongan, melainkan untuk digunakan demi melindungi yang lemah.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Maka hari ini, kami memilih bersuara. Karena kemanusiaan tidak boleh kalah oleh harga diri semu.

