News

Mendengar Suara Rakyat dari Nagan Raya

×

Mendengar Suara Rakyat dari Nagan Raya

Sebarkan artikel ini

Naga Raya hari ini… seperti berdiri di persimpangan yang terus bergetar. Bukan karena banjir menerjang, bukan karena air merendam jalan-jalan utama, melainkan karena gelombang efek Banjir Bandang Aceh menyusup diam-diam, menghantam sendi-sendi kehidupan tanpa suara. Kota ini memang tak kebanjiran air, tetapi justru kebanjiran masalah yang mengalir deras tanpa henti.

Antrian BBM kembali melilit seperti ritual lama yang tak pernah benar-benar pergi. Setiap kali Aceh diguncang sedikit saja, antrean seperti muncul dari tanah, berliku-liku di depan SPBU. Pengecer BBM yang dulu menjadi “pahlawan tanpa SPBU” kini tersingkir perlahan—bukan karena tak dibutuhkan, tetapi karena stok yang semakin sulit ditebak, semakin sulit diandalkan.

Dexlite? Nama itu kini seperti mitos. Disapu habis oleh kebutuhan genset, oleh orang-orang yang berusaha mempertahankan cahaya di tengah gelap yang tak kunjung berakhir. Listrik memang sesekali menyala—seperti sekilas harapan—namun lebih sering padam, meninggalkan malam yang panjang dan dingin. Dan ketika listrik padam bersama sinyal yang hilang-timbul, hidup otomatis masuk ke “mode pesawat”, terputus dari dunia, terkurung dalam ketidakpastian.

Kata Pak Bahlil, Aceh akan menyala pada hari Jumat. Tapi hingga kini yang menyala justru emosi masyarakat. Ironis, sebuah daerah yang punya pembangkit listrik malah krisis listrik—ibarat memiliki sumur sendiri tetapi tetap harus mengemis air ke tetangga.

Gas elpiji pun ikut menari dalam lingkaran krisis. Warung-warung kuliner perlahan menutup dapur, mundur dari panggung. Yang bertahan hanya dua jenis pedagang: mereka yang menyerah pada keadaan, dan mereka yang kembali menyalakan tungku kayu bakar seolah waktu berputar mundur puluhan tahun.

Di tengah keputusasaan itu, muncul niat sederhana tetapi menyakitkan—membeli tabung gas ke Medan. Harganya normal, stok melimpah. Tetapi harapan itu langsung patah ketika sopir travel meminta ongkos Rp 50.000 per tabung melon. Per tabung! Seakan tabung itu dibawa naik pesawat pribadi dari Nagan Raya ke Kuala Namu.

Beginilah Nagan Raya hari ini:
Tidak terendam air, tetapi terperangkap dalam lumpur kebijakan.
Tidak tenggelam dalam banjir, tetapi terhuyung oleh gelombang ketidakpastian.
Tidak berjuang melawan arus sungai, tetapi melawan arus distribusi yang kacau dan janji-janji yang tak menjejak tanah.

Semoga pemulihan segera benar-benar hadir—bukan hanya diberitakan, bukan hanya diumumkan, bukan hanya dijanjikan. Karena suara rakyat di Nagan Raya hari ini bukan minta banyak. Mereka hanya minta keadaan kembali masuk akal, kembali manusiawi. Dan itu mestinya bukan permintaan yang berlebihan.(Abu Bewok)