Sains

Perubahan Iklim Menggeser Risiko Penyakit Zoonosis

×

Perubahan Iklim Menggeser Risiko Penyakit Zoonosis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi patogen penyebab penyakit zoonosis. Perubahan iklim menggeser habitat satwa dan pola penularan penyakit dari hewan ke manusia. (Foto: Dok. Ist).

Perubahan iklim mengubah habitat dan interaksi manusia-hewan. Risiko zoonosis bisa naik atau turun, tergantung penyakit dan kondisi wilayah.

SuaraNanggroe.id | Banda Aceh – Perubahan iklim kian sering dibaca sebagai ancaman kesehatan. Kenaikan suhu, cuaca ekstrem, dan perubahan pola hujan disebut membuka ruang penularan zoonosis (penyakit dari hewan ke manusia). Namun temuan ilmiah terbaru menunjukkan hubungan itu tidak berjalan lurus.

Kajian yang disadur National Geographic, merujuk riset di Proceedings of the National Academy of Sciences, mencatat perubahan iklim memang memengaruhi penyakit zoonosis. Dampaknya, bagaimanapun, tidak seragam dan belum bisa digeneralisasi.

Iklim yang menghangat mengubah lanskap ekologi. Habitat bergeser, sebaran satwa berubah, dan interaksi manusia dengan hewan meningkat. Secara teori, kondisi ini membuka peluang penularan lintas spesies. Namun bukti ilmiahnya masih timpang. Dari sekitar 816 penyakit zoonosis yang diketahui, dampak perubahan iklim baru diteliti pada sebagian kecil saja. Hasilnya pun kerap tidak sejalan.

Artur Trebski, penulis utama studi tersebut, menilai persoalan kerap disederhanakan. Perubahan iklim sering diposisikan sebagai pemicu tunggal memburuknya risiko penyakit. “Masalahnya jauh lebih kompleks,” kata Artur, dikutip pada Senin (29/12/2025). Satu penyakit, menurut dia, bisa merespons perubahan iklim secara berbeda, tergantung wilayah dan konteks ekologisnya.

Suhu Paling Berpengaruh, Tapi Tidak Tanpa Batas

Di antara faktor iklim, suhu paling sering dikaitkan dengan perubahan risiko zoonosis. Dalam banyak kasus, suhu yang lebih hangat beriringan dengan meningkatnya risiko infeksi. Namun hubungan ini tidak berlaku tanpa batas.

David Redding, rekan Artur yang juga salah satu penulis studi itu, mencontohkan penyakit pes yang melibatkan bakteri, hewan pengerat, dan kutu. Saat suhu naik, populasi pengerat bisa meningkat dan siklus hidup kutu lebih cepat. “Tapi itu hanya sampai titik tertentu,” kata David.

Ia melanjutkan, pada suhu terlalu tinggi, kondisi penularan justru terganggu. Akibatnya, risiko wabah melemah. Pemanasan lanjutan, dengan demikian, tidak selalu berarti wabah lebih besar. Pada sebagian penyakit, sambung David, kenaikan suhu justru menekan penularan.

Pola tidak seragam juga muncul pada hewan pembawa penyakit lain. Kenaikan suhu kerap dikaitkan dengan lonjakan populasi nyamuk. Dampaknya pada kelelawar dan hewan pengerat, sebaliknya, masih sulit dipetakan.

Baca Juga :

Ketidakpastian makin besar saat curah hujan dan kelembapan diperhitungkan. Dampaknya sering saling bertentangan. Artur menjelaskan, hujan dapat meningkatkan ketersediaan makanan tikus dan memperbesar populasinya. Namun hujan berlebih juga bisa merusak liang dan menekan kelangsungan hidup. “Sulit menemukan satu pola yang konsisten,” ujarnya.

Membaca Risiko ke Depan

Dengan memetakan hubungan penyakit dan iklim, kedua peneliti ini mencoba membaca risiko ke depan. Penyakit zoonosis yang berkorelasi positif dengan suhu berpotensi meningkat di wilayah yang diperkirakan makin panas. Banyak wilayah endemik juga diprediksi lebih basah, meski dampak hujan terhadap risiko penyakit masih belum jelas.

Untuk memperjelas gambaran jangka panjang, Artur dan David menekankan perlunya data yang lebih seragam dan pembacaan ulang catatan masa lalu. Salah satu pendekatan yang dikaji adalah meneliti spesimen museum untuk melacak adaptasi patogen selama sekitar satu abad terakhir.

Menurut David, pembacaan historis ini penting agar risiko kesehatan tidak ditarik secara serampangan. Perubahan iklim memang berpengaruh terhadap zoonosis, tetapi relasinya berlapis dan masih menyisakan banyak celah pengetahuan.

“Kami berharap dapat mengurutkan spesimen museum untuk memahami bagaimana patogen beradaptasi terhadap perubahan iklim selama satu abad terakhir,” ujar David.

Perubahan iklim memang memengaruhi penyakit zoonosis, tetapi relasinya berlapis, tidak tunggal, dan masih menyisakan banyak celah pengetahuan. []