News

Prabowo ke Pakistan, Listrik di Aceh Tetap Padam: Wartawan dan Warga “Ngungsi” dari Satu Warung Kopi ke Warung Lain Demi Internet dan Genset

×

Prabowo ke Pakistan, Listrik di Aceh Tetap Padam: Wartawan dan Warga “Ngungsi” dari Satu Warung Kopi ke Warung Lain Demi Internet dan Genset

Sebarkan artikel ini

KoranAceh.Net | Banda Aceh — Di tengah pemadaman listrik berkepanjangan yang masih terjadi di Aceh, warga dan para pekerja media terpaksa berpindah-pindah dari satu warung kopi ke warung lainnya demi mendapatkan aliran listrik dari genset. Situasi ini semakin menyulitkan aktivitas publik, terutama para jurnalis yang tetap harus bekerja saat daerah mereka gelap gulita.

Sementara Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan resmi ke Pakistan, pemadaman di berbagai kabupaten/kota Aceh belum menunjukkan perbaikan signifikan. Warga mengaku frustasi karena belum ada kepastian kapan listrik akan stabil kembali.

Salah seorang jurnalis media online di Banda Aceh menggambarkan kondisi hariannya yang serba darurat:

“Habis minyak di warung satu, pindah ke warung kopi lain. Sampai saat ini sudah tiga kali pindah warung,” ujarnya sambil memperlihatkan perangkat kerjanya yang terus mencari colokan.

Foto yang diambil KoranAceh.Net, Rabu, (10/12) tampak beberapa wartawan duduk di sebuah warung kopi dengan meja kaca, memegang gawai mereka sambil menikmati kopi hitam. Di sudut warung, genset kecil terlihat menyala dengan suara bising, menjadi satu-satunya sumber daya listrik bagi pelanggan.

Situasi ini mencerminkan kondisi Aceh yang tidak hanya dihantam bencana banjir dan longsor, tetapi juga krisis energi yang membuat aktivitas ekonomi melambat dan akses informasi terganggu. Banyak masyarakat terpaksa mengungsi ke warung-warung yang memiliki genset, meski harus berpindah tempat ketika bahan bakar habis.

Beberapa warung kopi mengaku kesulitan mendapatkan pasokan BBM untuk menghidupkan genset lebih lama. “Minyak makin susah dapat. Sekarang kami buka sebentar-sebentar saja, karena takut habis total,” kata salah satu pemilik warung.

Kondisi ini menambah tekanan psikologis warga Aceh yang masih berjuang memulihkan diri dari dampak bencana alam sejak awal Desember.[]