News

Tugu Radio Rimba Raya: Suara Gayo yang Menyelamatkan Republik

×

Tugu Radio Rimba Raya: Suara Gayo yang Menyelamatkan Republik

Sebarkan artikel ini

Ditulis oleh Tgk. Idris Arami : Masyarakat Dataran Tinggi Gayo

Di dataran tinggi Gayo, Aceh—kini dikenal sebagai Kabupaten Bener Meriah—berdiri sebuah monumen yang tidak sekadar batu dan besi. Tugu Radio Rimba Raya adalah saksi bisu sebuah peristiwa besar dalam sejarah Indonesia: saat Republik ini hampir dilenyapkan dari peta dunia, namun tetap hidup karena suara yang dipancarkan dari hutan Gayo.

Pada masa Agresi Militer Belanda, ketika hampir seluruh wilayah Nusantara telah diduduki penjajah, Dataran Tinggi Gayo adalah salah satu wilayah yang tidak tunduk. Di sanalah Republik Indonesia masih bernapas. Melalui Radio Rimba Raya, orang-orang Gayo mengabarkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia belum mati, bahwa negara ini masih ada, masih berdiri, dan masih berjuang.

Siaran itu menembus batas geografis dan politik. Dunia mendengar. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengetahui bahwa Indonesia tetap eksis. Dan dari sanalah jalan menuju Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag terbuka, yang kemudian mengantarkan pengakuan kedaulatan Indonesia sebagai negara merdeka. Sejarah mencatat: tanpa Gayo, tanpa Radio Rimba Raya, Republik ini bisa saja terkubur sebelum lahir sempurna.

Bangsa Gayo membayar peran sejarah itu dengan harga yang sangat mahal. Darah mengalir, nyawa melayang, dan jasad para pejuang terbaring di lapisan bumi. Banyak pahlawan Gayo gugur dalam pertempuran melawan penjajah, bertarung mati-matian demi satu kata yang hari ini kita ucapkan dengan mudah: Merdeka.

Mereka berjuang tanpa pamrih. Mereka tidak meminta disebut pahlawan. Mereka hanya ingin anak cucunya kelak hidup tanpa rantai penjajahan. Sejarah mencatat betapa dahsyatnya pertempuran di tanah ini—peluru bersahutan, darah membasahi tanah, dan jeritan perlawanan menggema di pegunungan. Semua itu adalah harga yang dibayar orang Gayo untuk Republik.

Delapan puluh tujuh tahun sudah orang Gayo merawat kemerdekaan ini. Mereka tidak menjilat kekuasaan. Mereka tidak mengeluh tentang negeri yang mereka bela dengan nyawa. Mereka memilih setia dalam diam.

Namun hari ini, ketika bencana maha dahsyat menimpa tanah Gayo, kesetiaan itu seolah dibalas dengan pengabaian. Mata pusat seakan tertutup. Telinga kekuasaan seolah tuli. Maka suara pun akhirnya harus dilepaskan.

Di manakah kemerdekaan itu hari ini? Di manakah keadilan itu diletakkan? Di manakah nilai sosial yang selalu diagungkan dalam konstitusi? Apakah ini yang disebut air susu dibalas air tuba?

Kami tidak menuntut kemewahan. Kami hanya lapar dan membutuhkan sesuap nasi di balik reruntuhan. Kami haus dan membutuhkan seteguk air untuk menyambung hidup. Kami di Gayo adalah saudara kandung Republik ini, bukan saudara tiri yang boleh dilupakan saat luka menganga.

Jangan biarkan penderitaan ini berkepanjangan. Jangan biarkan kami bertepuk sebelah tangan dalam rumah yang kami bangun bersama dengan darah dan nyawa. Bila engkau berpaling, maka dengan terpaksa kami kembali menyerukan kepada dunia—sebagaimana dahulu kami melakukannya melalui Radio Rimba Raya—bahwa kami tidak baik-baik saja dalam Republik ini.

Dan semoga suara itu, sekali lagi, didengar.[]