SuaraNanggroe.id | Tangis Siti Haliza pecah di tengah kebun pisang miliknya. Perempuan itu tak kuasa menahan emosi saat melihat ratusan pohon pisang yang ia rawat dengan penuh harapan, kini berubah layu dan menghitam dalam waktu singkat.
Peristiwa ini viral di media sosial setelah ia mengunggah video di akun TikTok @bebyliza36. Dalam rekaman berdurasi hampir empat menit itu, Siti memperlihatkan kondisi kebunnya yang rusak parah.
Sekitar 600 pohon pisang yang sebelumnya tampak sehat, tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda kematian hanya dalam dua hari.
“Sumpah sakit banget, 600 pohon pisangku disuntik racun sama orang. Demi Allah aku nggak ikhlas,” ucapnya lirih dalam video tersebut.
Di antara batang-batang pisang yang mulai membusuk, Siti terduduk lemas. Tangannya tampak gemetar, suaranya bergetar menahan tangis. Ia menduga ada pihak yang sengaja merusak kebunnya.
Baginya, ini bukan sekadar kerusakan biasa.
Siti mengaku menemukan bekas seperti suntikan pada batang pohon, yang menurutnya menjadi bukti adanya tindakan sabotase. Ia juga menunjukkan cairan yang mengalir dari batang hingga ke tanah, bahkan menyebut ada bekas seperti minyak di sekitar akar.
“Setiap kejahatan itu pasti meninggalkan bekas,” katanya sambil menunjuk salah satu pohon yang telah menghitam.
Ia menegaskan, kerusakan tersebut berbeda dengan penyakit tanaman pada umumnya. Sebab, perubahan kondisi terjadi sangat cepat—dari hijau menjadi hitam hanya dalam waktu dua hari.
“Kalau penyakit, nggak mungkin secepat ini. Kami tahu mana penyakit, mana diracun,” ujarnya.
Kerugian yang dialami pun tak sedikit. Siti menyebut seluruh modal yang ia tanam bersama keluarganya kini terancam hilang. Kebun pisang tersebut sebelumnya diharapkan menjadi sumber penghasilan utama.
Video tersebut telah ditonton lebih dari 1,2 juta kali dan menuai simpati luas dari warganet. Banyak yang menyampaikan dukungan moral dan doa agar Siti mendapatkan ganti rezeki.
“Kasihan petaninya, semoga diganti lebih baik,” tulis salah satu pengguna.
Di balik viralnya peristiwa ini, terselip potret getir kehidupan petani—yang menggantungkan harapan pada alam, namun tetap rentan terhadap hal-hal tak terduga, termasuk dugaan tindakan manusia yang merugikan.[]






