BANDA ACEH – Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan (Dirjen Bina Adwil) Kementerian Dalam Negeri, sekaligus mantan Penjabat Gubernur Aceh, Dr. Safrizal ZA, M.Si., menerima penghargaan bergengsi Garda Kemanusiaan Pascabencana Hidrometeorologi Aceh dari Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Aceh.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam Malam Apresiasi JMSI Aceh yang dirangkai dengan pelantikan Pengurus Daerah JMSI Aceh periode 2025–2030 di Ayani Hotel, Banda Aceh, Jumat (12/6/2026) malam.
Ketua JMSI Aceh, Hendro Saky, mengatakan penghargaan diberikan melalui proses kurasi yang ketat dengan mempertimbangkan kontribusi nyata para penerima dalam penanganan bencana dan kemanusiaan di Aceh.

Menurut Hendro, Safrizal dinilai memiliki peran penting dalam mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025.
“Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi, kepemimpinan, dan komitmen beliau dalam mengoordinasikan berbagai elemen untuk mempercepat pemulihan masyarakat terdampak bencana,” ujar Hendro.
Menerima penghargaan tersebut, Safrizal menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada JMSI Aceh. Ia menegaskan penghargaan tersebut bukanlah pencapaian pribadi, melainkan hasil kerja bersama seluruh pihak yang terlibat dalam upaya penanganan bencana.
“Penghargaan ini tentu merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja keras dan dedikasi, bukan hanya saya pribadi, tetapi seluruh pihak yang tanpa lelah bekerja,” kata Safrizal.

Safrizal menekankan bahwa penanggulangan bencana di era modern tidak dapat dilakukan secara parsial. Menurutnya, keberhasilan penanganan bencana hanya dapat dicapai melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, media, akademisi, komunitas, dan dunia usaha.
Ia juga mengingatkan agar penghargaan tersebut tidak dimaknai sebagai bentuk keunggulan individu semata. Dalam pandangannya, keberhasilan penanganan bencana merupakan hasil dari kolaborasi berbagai pihak yang bekerja secara terpadu.
“Semoga penghargaan ini dimaknai sebagai representasi kolaboratif dan bukan ‘monos-arete’ atau keunggulan individual. Penanganan bencana adalah kerja kolaboratif,” tegasnya.
Malam Apresiasi JMSI Aceh turut dihadiri unsur Korem, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), tokoh masyarakat, insan pers, serta kalangan dunia usaha. Kehadiran berbagai elemen tersebut menjadi simbol kuatnya sinergi kemanusiaan yang terus terbangun di Aceh dalam menghadapi dan memulihkan dampak bencana.
Penghargaan Garda Kemanusiaan Pascabencana Hidrometeorologi Aceh diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai tantangan kebencanaan di masa mendatang.(*)

