BANDA ACEH | SuaraNanggroe.id – Pemerintah melalui Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) melaporkan progres pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Aceh terus menunjukkan tren positif. Hingga awal April 2026, sebagian besar sektor telah pulih signifikan, meski sejumlah wilayah masih membutuhkan perhatian khusus.
Paparan Kepala Pos Komando Wilayah Satgas PRR, Safrizal ZA, dalam kegiatan media gathering di The Padee Hotel, Selasa (7/4/2026), mengungkapkan bahwa dari total 23 kabupaten/kota di Aceh, sebanyak 10 daerah (56 persen) telah dinyatakan normal, satu daerah mendekati normal, dan tujuh kabupaten masih dalam kategori perlu atensi khusus. 
Pemulihan Infrastruktur dan Layanan Publik
Secara umum, indikator pemulihan pemerintahan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi menunjukkan capaian yang signifikan. Seluruh layanan rumah sakit dan puskesmas di Aceh telah kembali beroperasi 100 persen, meskipun masih terdapat 12 unit puskesmas pembantu yang belum berfungsi penuh. 
Di sektor pendidikan, kegiatan belajar mengajar juga telah berjalan normal di seluruh 3.120 sekolah terdampak, meski sebagian masih menggunakan fasilitas darurat seperti tenda dan ruang sementara.
Untuk infrastruktur, akses jalan nasional dan jembatan nasional telah pulih 100 persen. Sementara itu, jalan daerah telah mencapai lebih dari 90 persen fungsional, dan jembatan daerah masih berada di angka sekitar 54 persen. 
Pembersihan Lumpur Hampir Tuntas
Salah satu fokus utama penanganan pascabencana adalah pembersihan lumpur. Hingga 6 April 2026, dari total 519 lokasi terdampak, sebanyak 480 lokasi atau sekitar 92 persen telah selesai dibersihkan. Sisanya masih dalam proses pengerjaan. 
Program padat karya “cash for work” juga dilibatkan untuk mempercepat proses ini, termasuk partisipasi ratusan warga di sejumlah titik seperti di Kabupaten Pidie Jaya.
Hunian dan Bantuan Sosial Masih Berjalan
Di sektor perumahan, pembangunan hunian sementara (huntara) telah mencapai lebih dari 91 persen. Namun, pembangunan hunian tetap (huntap) masih dalam tahap perencanaan dan pengadaan lahan di sejumlah daerah.
Data menunjukkan, total bantuan sosial yang telah disalurkan kepada korban mencapai lebih dari Rp355 miliar, mencakup jaminan hidup, isi hunian, dan stimulus ekonomi. 
Tantangan di Daerah Terdampak Berat
Meski progres pemulihan cukup tinggi, beberapa daerah seperti Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Bireuen, Aceh Tamiang, Gayo Lues, dan Pidie Jaya masih menghadapi tantangan serius.
Permasalahan utama meliputi kerusakan infrastruktur desa, keterbatasan hunian permanen, serta pemulihan ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya stabil.
Selain itu, sektor pertanian dan perikanan juga masih membutuhkan intervensi lebih lanjut, mengingat luas lahan terdampak mencapai puluhan ribu hektare dan ribuan pembudidaya terdampak.
Penutup: Fase Transisi Menuju Stabilitas
Satgas PRR menegaskan bahwa Aceh saat ini memasuki fase transisi dari tanggap darurat menuju stabilisasi. Fokus ke depan tidak hanya pada penyelesaian fisik, tetapi juga pemulihan ekonomi dan sosial masyarakat.
Dengan capaian yang sudah mendekati tuntas di banyak sektor, pemerintah optimistis pemulihan penuh dapat tercapai, asalkan intervensi di wilayah prioritas terus diperkuat dan koordinasi lintas sektor tetap terjaga.[]







