JAKARTA | SuaraNanggroe.id – Dunia internasional kembali menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah setelah muncul laporan penyergapan terhadap armada misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza, Palestina. Sejumlah kapal yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla dilaporkan dicegat oleh militer Israel di perairan internasional dekat Siprus, memicu kecaman luas, termasuk dari Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik setelah video penangkapan sejumlah relawan, termasuk yang disebut berasal dari Indonesia, beredar luas di media sosial.
Menurut laporan resmi Global Sumud Flotilla yang dirilis pada Rabu (20/5/2026), sebanyak 10 kapal dari total sekitar 60 kapal konvoi disebut mengalami intersepsi oleh pasukan Israel sekitar 70 mil laut atau 129 kilometer dari Pulau Siprus pada Senin (18/5/2026).
Misi kemanusiaan itu diikuti 426 relawan dari 40 negara, dengan komposisi terbesar berasal dari Turki sebanyak 96 orang. Relawan lainnya berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Kanada, Pakistan, Mesir, Prancis, Australia, hingga Afrika Selatan.
Dalam perkembangan terbaru, pihak Global Sumud Flotilla menyebut terdapat lima warga negara Indonesia (WNI) yang hingga kini dikabarkan masih ditahan otoritas militer Israel.
Kasus tersebut langsung menuai respons keras dari Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia. Pihak kedutaan mengecam tindakan militer Israel yang dianggap mencegat misi kemanusiaan di wilayah perairan internasional.
Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah Alsattari, menegaskan bahwa para relawan yang berada dalam armada tersebut merupakan pejuang kemanusiaan yang bergerak berdasarkan prinsip hukum internasional.
“Mereka adalah para pahlawan pembela hak asasi manusia, keadilan, dan hukum internasional,” ujar Alsattari dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Ia juga menilai tindakan penyergapan yang dilakukan Israel tidak akan menghentikan perjuangan rakyat Palestina maupun solidaritas internasional terhadap Gaza.
Menurutnya, berbagai bentuk tekanan dan blokade justru akan memperkuat semangat perjuangan rakyat Palestina serta meningkatkan dukungan dunia internasional terhadap misi kemanusiaan.
“Kami mengecam tindakan Zionis. Kejahatan mereka justru akan menambah kekuatan dan tekad kami untuk terus bertahan di tanah air kami,” tegasnya.
Peristiwa ini kembali memicu perhatian dunia terhadap situasi kemanusiaan di Gaza, terutama terkait akses bantuan internasional dan keselamatan relawan lintas negara yang terlibat dalam misi kemanusiaan menuju wilayah konflik.[]



